Human are scary, they can’t help hurting others. Those who do not want to do that will hurt themself.
Dilematika Klakson dan Rem
Jakarta, kota ini begitu sibuk mengejar perputaran uang yang sangat cepat. Hal ini menyebabkan putaran roda setiap kendaraan itu juga lebih cepat, dan mendorong tempramen orang-orangnya juga naik dengan lebih cepat.
Sebuah fenomena rutin yang saya lihat dan saya dengar setiap harinya di jalanan ibu kota adalah toleransi antar pengguna jalan (pengguna mobil, pengguna motor, pengguna kendaraan lain dan pejalan kaki) yang sangat kurang.
Sebelum tulisan ini merembet kemana-mana, ada satu pertanyaan besar yang muncul di kepala saya sejak saya mengenal Jakarta,
Kenapa sih, orang yang berkendara di Jakarta lebih milih menggunakan klakson daripada rem??
Semua kendaraan bermotor yang ada dilengkapi oleh Rem dan Klakson yang fungsinya berbeda meskipun sering dioperasikan bersamaan.

Di saat kendaraan melaju, ada orang nyebrang, klakson yang ditekan, bukannya Rem. Padahal itu masih jauh, HEY! I drive sometimes, so I know that you have enough time and far enough to braking your d**ned car (or motorcycle).
Gitu juga waktu ada kendaraan lain masuk ke jalan, belok, atau menepi. Suara klakson yang panjang dan bernafsu selalu meramaikan suasana lalu lintas Jakarta.
Menyukai klakson sampai lupa cara menggunakan rem..






















